BAGIAN 32
Mimpi, ilusi, gelembung, bayangan, embun, dan kilat
Terjemahan Indonesia
Edisi Pertama · Halaman 47 · Terjemahan studi penuh dalam Edisi Pertama; bukan kutipan kanonik.
‘, jika seseorang menggunakan tujuh permata yang memenuhi dunia-dunia yang tak terhitung, tak terbilang, dan tak terhingga untuk memberi; dan jika ada putra baik atau putri baik yang membangkitkan hati bodhi, menerima, mempertahankan, membaca, melafalkan sutra ini, bahkan hanya empat baris syairnya, dan menjelaskannya kepada orang lain, kebajikannya melampaui yang sebelumnya. Bagaimanakah menjelaskannya kepada orang lain? Dengan tidak mengambil tanda dan tetap demikian adanya, tidak tergoyahkan. Mengapa demikian?’ ‘Semua Dharma berkondisi adalah seperti mimpi, seperti ilusi, seperti gelembung, seperti bayangan, seperti embun, dan seperti kilat; demikianlah hendaknya dipandang.’ Setelah Buddha selesai mengucapkan sutra ini, sesepuh Subhūti, bersama para bhikṣu dan bhikṣuṇī, para upāsaka dan upāsikā, serta seluruh dewa, manusia, dan asura di dunia, setelah mendengar apa yang dikatakan Buddha, semuanya sangat bergembira, menerima dengan keyakinan, dan menjalankannya.’
Pelajari lebih lanjut
INTERPRETASI · Penjelasan draf untuk penelaahan.
Menjelaskan tanpa menggenggam
Sebelum syair, teks mengajak menjelaskan sutra tanpa menggenggam tanda.
Baca paragraf rujukanSyair penutup
Enam perumpamaan mengantar perenungan tentang semua hal yang terkondisi.
Baca paragraf rujukanMenerima dan mempraktikkan
Persamuhan menyambut ajaran dengan kegembiraan dan penghormatan.
Baca paragraf rujukan
RUANG PEMAHAMAN · TERPISAH DARI TEKS SUTRA
Inti bagian
Mimpi, ilusi, gelembung, bayangan, embun, dan kilatan petir menutup perjalanan sutra.
Ringkasan web untuk penelaahan.Penjelasan singkat
Edisi Pembaca · Halaman 33
Semua yang berkondisi diibaratkan seperti mimpi, ilusi, gelembung, bayangan, embun, dan kilat. Ini bukan berarti kehidupan sama sekali tidak ada. Intinya: apa pun yang muncul karena kondisi tidak perlu digenggam sebagai sesuatu yang tetap, kekal, dan mutlak. Sutra berakhir dengan ajakan untuk melihat dengan jernih dan hidup tanpa melekat.
Penjelasan disalin dari Edisi Pembaca. Penekanan antarbahasa dapat berbeda; bandingkan dengan teks sutra lengkap.